Kamis, 27 September 2012

Puisi Cinta

Petang tadi ada acara baca puisi di kampus. Kukira puisi-puisi yang rada "kece" gitu. Eh, ternyata puisi-puisi galau tentang percintaan ala mahasiswa. Hehehe...tapi, bagus juga, kok, aku jadi terbawa galau. Nulis puisi juga, deh. Jangan ketawa, ya.

Cinta.

Aku manusia
bisa jatuh cinta
aku tidak bisa mengiranya
karena telah kupendam dalam hitungan warsa

Sudah takterkira takterhingga
kuibaratkan saja seperti serigala
cintaku terlalu besar karena terlampau lama
jadi sebuas dan seganas serigala

Serigala itu terikat tali
ujungnya di tanganmu, ujung lain di tanganku
diam saja, jangan bergerak

Kita tidak akan berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
Jika kita terlampau berjauhan
tali akan menjerat serigala mengantarnya ke alam baka
serigala mati, cintaku mati

Kita tidak akan berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
Jika kita berdekatan, tali akan kendur
serigala akan memangsa aku, kau, dan mereka

Kita tidak berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
atau akan ada yang terluka

Sabtu, 08 September 2012

Sastra Lisan, Tradisi Lisan, dan Folklore

Semester ini, aku ikut kuliah Sastra Lisan? Apa itu? Istilah itu sebenarnya juga tidak terlalu tepat karena mengandung pengertian yang kontradiktif, tetapi istilah ini sudah terlanjur digunakan secara luas. "Sastra" dan "lisan", "lisan" yang "disastrakan", "sastra" yang "dilisankan" atau "sastra" yang disebarkan secara "lisan"? Sebenarnya, aku juga belum mengerti benar. Baru juga kuliah 2 jam, hehehe...

Bagaimana dengan tradisi lisan?
Sepakat, ya, kalau tidak semua bahasa memiliki sistem aksara? Bahkan, sampai sekarang, lho, masih ada bahasa yang tidak memiliki aksara atau aksaranya mengadaptasi bahasa lain, contohnya bahasa Indonesia, hehe...sebenarnya, dulu bahasa Indonesia hampir memiliki aksara sendiri, tapi...ah...nanti saja ceritanya...
Nah, untuk hakikatnya bahasa itu sistem bunyi, jadi bahasa memang tidak harus beraksara. Sekolompok masyarakat pasti memiliki budaya. Budaya meliputi banyak hal. Segala ilmu dan kesenian dari suatu masyarakat yang belum mengenal tulisan tentu akan diwariskan secara lisan. Inilah tradisi lisan. Namun, tradisi lisan belum tentu berhenti ketika sistem aksara sudah ada, contohnya masih banyak pelaku-pelaku seni yang belajar secara otodidak bukan dari buku (sistem aksara sudah ada, lho).

Di dalam tradisi lisan, ada sastra lisan. Sudah kubilang, aku belum mengerti benar. Sastra lisan adalah bagian dari tradisi lisan. Ini karena tradisi lisan berwujud banyak hal, misalnya ilmu pengobatan, ilmu membaca alam, dan ilmu lain menurut kearifan lokal masing-masing budaya. Menurut pemahamanku, sastra adalah salah satu produk budaya yang berupa cerita. Cerita bisa diwujudkan dalam banyak bentuk, seperti lagu, pantun, syair, puisi, dan prosa. Jadi, sastra lisan adalah bentuk-bentuk sastra yang disebarkan atau dilakukan secara lisan. Semoga kesimpulanku ini benar, haha...

Nah, ada lagi istilah foklore. Baunya bahasa Inggris, nih. Folklor dari kata "folk" dan "lore". "Folk" berarti manusia kolektif dan "lore"  berarti tradisi. Jadi, folklor adalah...jeng jeng jeng...pusing, haha... Manusia yang kolektif secara bersama-sama menghasilkan kebudayaan. Berbagai produk budaya itu diwariskan turun-temurun. Produk budaya ada yang berupa lisan, tulisan, dan berupa benda. Oleh karena itu, folklor tidak sama dengan tradisi lisan.

Nah, jelas bahwa folklor bukan bagian dari tradisi lisan, tapi apakah tradisi lisan bagian dari folklor? Bukan juga, tradisi lisan dan folklor berbeda meski mungkin ada bagian yang tumpang tindih. Namun, yang aku pahami adalah folklor menekankan pada manusia yang kolektif, yakni kita harus melihat suatu produk budaya yang diwariskan turun-temurun sebagai hasil dari olah pemikiran manusia. Sedangkan, tradisi lisan lebih menekankan pada budaya yang diwariskan dan dikomunikasikan secara lisan.

Kau bingung? Aku juga, haha...tulisan ini tidak ilmiah, kau boleh percaya atau tidak. Yang jelas aku menulis jujur sesuai yang kupahami. Aku belum membaca buku, hanya artikel koran yang disalin di blog, ini http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/merevitalisasi-atau-membunuh-tradisi.html.

Tidak perlu kutipan atau daftar pustaka, ya? Kita bergosip saja. Lagipula kadang aku ingin kembali ke masa lalu saat ilmu itu milik bersama, tidak dikomersilkan, dan tidak perlu klaim hak cipta atau hak kekayaan intelektual atau klaim-klaim yang lain.

Jumat, 07 September 2012

Proyek di Pasar Ikan

Hai, kau. Tengah malam aku terbangun. Sudah biasa aku seperti ini, tidur setelah magrib atau isya' lalu terbangun tengah malam. Biasanya susah tidur lagi. Apalagi kalau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Aku bercerita padamu saja.

Sekarang ini aku sedang mengerjakan projek di Pasar Ikan di Jakarta Utara. Ini untuk kompetisi bisnis sosial yang diadakan oleh sebuah perusahaan. Tim kami terdiri dari 5 orang. Kami akan membuat sebuah kampung wisata di daerah ini.

Sebenarnya, kami punya blog yang menceritakan kegiatan-kegiatan kami, di sini http://meltingpotproject.tumblr.com/. Berkunjunglah jika sempat. Hehehe...

Di Jakarta, ada agen-agen yang menyalurkan wisatawan asing untuk berjalan-jalan di daerah-daerah kumuh dan miskin di Jakarta. Apa kau tahu hal ini? Apa kau juga merasa ini menyedihkan? Ya, kalau boleh agak kasar aku berkata, orang asing itu dibawa berkeliling untuk semacam "wisata kemiskinan".

Agen-agen seperti itu sudah lama ada dan belum ada perubahan di lokasi-lokasi miskin itu. Aku dan teman-teman juga dibantu dosen pembimbing membuat proyek di sana dengan tujuan dapat membantu mereka untuk mendapat penghasilan tambahan.

Kami akan bekerja sama dengan agen tour itu. Mereka akan memberikan kursus, terutama bahasa Inggris, untuk beberapa warga agar mereka bisa menjadi tour guide. Agen itu juga akan membantu menyalurkan wisatawan ke tempat ini. Eh, lokasi itu berada di antara 12 destinasi wisata pesisir, lho, memang banyak wisatawan asing yang berseliweran di sini.

Selain itu, kami akan membantu warga memperbaiki rumah mereka untuk tempat menginap bagi turis. Kami juga membantu mereka membersihkan pemukiman itu yang penuh sampah dan memperbaiki kebiasaan mereka yang suka buang sampah di laut. O ya, aku belum cerita, masyarakat di sini membangun rumah di atas laut, dekat pelabuhan Sunda Kelapa, dan mereka juga selalu membuang sampah di laut. Mengapa? Tentu karena kemiskinan. Orang-orang itu hanya berpikir hari ini bisa makan tanpa peduli lingkungan.

Begitulah cerita singkatnya. Kapan-kapan aku cerita lagi. Doakan, ya, agar proyek ini berhasil !!! ^_^

Rabu, 05 September 2012

Senja di Beranda


Rumah ini punya dua teras. Tidak sejajar letaknya karena yang satu menjorok ke belakang dan lebih sebagai ruang keluarga. Rumah ini terletak di tengah-tengah rumah para tetangga. Sebenarnya tidak ada jalan keluar kecuali tanah sempit yang katanya ada atas belas kasih seorang warga. Tanah sempit macam celah itu kini diberi pagar besi dan digembok. Padahal rumah berpagar saja aku tidak suka. Apalagi ini, membuat kami seperti tahanan.

Kejutan yang Menyenangkan. Terima Kasih.

Hai, kau, apa kau tahu kalau akhir Agustus lalu aku ulang tahun?

Tidak pernah ada yang merayakan ulang tahunku, bahkan keluargaku sendiri. Memang aku sendiri yang tidak mau, sih. Aku tidak suka menspesialkan hari-hari tertentu. Hari ulang tahun, bagiku adalah pengingat bahwa kesempatanku hidup di dunia berkurang. Aku akan merenungi apa-apa yang sudah aku lakukan, apa yang bermanfaat dan apa yang tidak. Kalau ada yang mendoakan, aku sangat berterima kasih.

Begitulah aku. Kau harus mengerti. Aku juga tidak terlalu peduli dengan ulang tahun orang lain, jarang aku bisa mengingat. Maaf. Tapi, sekarang aku sedikit berubah, lho. Aku jadi suka ikut membuat kejutan untuk teman yang ultah. Sepertinya, memberikan perhatian semacam itu membuat orang bahagia.

Di ultahku tahun ini banyak yang memberikan ucapan selamat dan doa. Aku sangat berterima kasih. Ada juga yang memberikan perhatian lebih yang membuatku terharu. Temanku sebangku waktu SMP mengajakku makan di restorannya...hmmm...gratis, lho, ehehehe... Adikku yang paling kecil membeli bros-bros lucu untukku. Satu lagi, teman sekamarku di kos, dia menaruh kado di atas mejaku saat aku tertidur. Saat bangun, kukira kado itu milik temannya yang tertinggal. Wah, ternyata buat aku. Banyak hal yang membuatku senang, termasuk ucapan-ucapan ulang tahun yang lucu-lucu dari teman-temanku. Walau beberapa di antaranya agak menyebalkan. Hahaha... Tidak apa-apa, aku suka.

Bagaimana denganmu? Aku harap suatu hari kita bisa merayakan ulang tahun bersama.

Jendela Dia

Sampai Dia dewasa, sampai Dia tiada; aku masih diam di sini. Statis tidak bergerak dengan ingatan masa lalu yang jelas. Inilah takdir. Masa lalu memang sudah berlalu. Masa lalu selalu lebih indah jika telah berlalu. Kenangan. Kadang aku bertanya apa orang yang kita kenang mengenang kita pula. Hatiku akan hancur bila mengakui bahwa kenangan sifatnya subjektif. Tidak selalu yang kita kenang adalah kenangan berharga pula bagi orang lain. Tapi memang begitu adanya. Apalagi bila menyangkut orang yang kita sayangi.
Apalah arti yang tengah aku rasakan? Suatu yang abstrak tapi nyata. Suatu yang kuketahui bahwa ini terkadang berasal dari sensasi yang sengaja dirasa. Cinta? 

Selasa, 04 September 2012

Pesan yang Kekal

Ada pesan yang kekal dalam kata, sebagaimana ada juga pesan yang kekal dalam untaian DNA.

DNA itu terdiri dari untaian protein. Ada namanya, ya? Berantai-rantai di satu sisi lalu protein-protein itu disalin di sisi lain. Begitu seterusnya hingga terpilin banyak. Tidak akan ada kesalahan. Terjadi secara otomatis.

Kecuali terjadi sesuatu, misalnya tubuhmu di sorot sinar beradiasi tinggi hingga mengacaukan pesan-pesan yang dirangkai DNA. Namanya mutasi gen. Mutasi gen tidak berlangsung serentak untuk seluruh umat manusia, kan. Ya. Hanya seorang saja yang DNA-nya bermutasi. Orang ini berketurunan lalu pesan-pesan DNA diwariskan sama persis ke anaknya. Anaknya ke anak anaknya ke anak anaknya anaknya. Begitu terus. Manusia jadi bermacam-macam.

Tetap saja ada pesan yang kekal dalam DNA. Pola mutasinya pun bisa dilacak.

Sama seperti kata. Kau berbahasa. Bahasa yang kaumaksud bahasa, ya, harus dimengerti manusia. Bahasamu dipakai oleh komunitasmu. Kau juga. Tiba-tiba, seseorang begitu ia bangun tidur lidahnya kaku. Parahnya ia ditiru. Ditiru. Dan terus ditiru. Ditambah. Ditambah. Dikurangi. Dikurangi. Ada yang hilang. Ada yang berubah. Bahasa manusia jadi ada macam-macam. Tetap. Ada yang kekal. Pesan-pesan kekal itu bisa dilacak.