Senin, 03 September 2012

Tanggamus, Lampung: Perjalanan ke Pemukiman Dekat Pertambangan

Masih tentang pengalamanku di Tanggamus, ya. Cuma 4 hari, tapi aku mencoba memahami di sini.

Di Tanggamus tepatnya masuk wilayah Pekon Gunung Doh, ada perusahaan tambang emas, lhoh. Menurut seorang warga, sebenarnya status wilayah pertambangan ini sempat diperebutkan, yakni masuk Lampung Barat atau Tanggamus. Ya, karena daerah pertambangan ini memang berada di perbatasan. Pertambangan ini akhirnya diakui milik Tanggamus.

Pekon yang aku tinggali berada jauh dari lokasi pertambangan. Untuk mencapainya, butuh sekitar 3 jam dengan kendaraan roda 4 jenis elp. Untuk mencapai lokasi tambang tidaklah mudah.

Hanya pekerja yang memiliki izin masuk lokasi pertambangan. Bisa juga orang-orang tertentu yang berkepentingan diizinkan masuk ke lokasi dan tentu saja dipertanyakan dulu apa kepentingannya. Proses perizinannya sangat ketat. Aku? Aku tidak punya izin untuk memasuki wilayah tambang. Baiklah, tapi aku punya keberuntungan untuk berada sedikit dekat dengan lokasi.

Tidak ada sarana transportasi umum ke sana. Kalau mau kita bisa sewa ojek, tapi bayar 100 ribu rupiah. Gila, ya? Kalau aku, aku tidak akan mau mengeluarkan uang sebesar itu. Hehehe...

Tiap pagi dan sore ada mobil elp yang membawa pekerja tambang pulang pergi ke lokasi. Aku dan kedua temanku meminta diantar oleh mobil ini. Ya, kami menyetop bus dan meminta ikut. Sebenarnya, ini tidak boleh dilakukan karena mobil itu memang khusus untuk pekerja. Akan tetapi, banyak juga warga yang bermukim di sekitar lokasi tambang menggunakan transportasi ini untuk perjalanan turun bukit atau kembali ke rumahnya yang aksesnya sulit dijangkau itu.

Kami diizinkan ikut. Ah. Senang sekali. Tapi, tanpa kita ketahui, seseorang di bus itu melapor pada atasannya di perusahaan tambang bahwa ada mahasiswa yang masuk lokasi tambang tanpa izin. Wah, wah, wah, tentu saja kami dapat sedikit masalah mengenai ini. Namun, ada kesalahpahaman juga di sini. Kami tidak pernah masuk lokasi tambang. Kami hanya berkeliling di pemukiman dekat lokasi tambang.

Ada cerita apa saja di sana? Sebentar, akan kuceritakan, simpan untukmu saja ya...

Minggu, 02 September 2012

Tanggamus, Lampung: Tingkat Kriminalitas yang Tinggi

Sebelum cerita, aku perlihatkan foto dulu, ya.
Hei, menurutmu, foto spanduk ini seram, ga sih?

Foto ini kuambil di Kota Agung. Menuju ke Kota Agung, aku naik bus dari Bandar Lampung. Dalam penantian ke tempat tujuan, aku banyak mencuri dengar kisah-kisah kriminalitas dari obrolan para penumpang.

Seram sekali. Di sana, perampokan dan pemalakan adalah hal yang biasa. Pencurian juga biasa. Dan, yang mengerikan, pencuri yang tertangkap sudah biasa dipukuli ramai-ramai. Bahkan, ada yang sampai meninggal.

Lihat saja spanduk itu. Spanduk itu tidak main-main. Tidak juga hanya di satu tempat, tapi aku melihatnya di beberapa tempat. Ke mana, ya, pak polisi? Hmm...tingkat kriminalitas di sini sangat tinggi. Mungkin, pak polisi kewalahan. Sampai ada spanduk mengerikan ini yang mengatasnamakan "masyarakat Kota Agung bersatu" yang menghalalkan main hakim sendiri.

Tukang ojek di sini juga terkenal berbahaya. Tiap ada penumpang turun dari bus akan ada banyak tukang ojek yang mengerubuti, merebut tas penumpang, memaksa kita naik ojek mereka, dan hati-hati bisa-bisa kau dimintai banyak uang di tengah jalan (dipalak). Ketika aku menyebutkan tempat di mana aku turun pada kondektur bus, kondektur mengamatiku dan langsung berkata bahwa aku bukan orang sana dan pasti belum pernah ke sana. Beliau menasihatiku bahwa tempat tujuanku itu sangat rawan kejahatan. Hmmm...baru juga sedikit menginjakkan kaki di seberang pulau Jawa, sudah terlihat hal yang baru.

Pekon/desa yang saya tinggali tidak kalah seram. Pekon ini adalah bagian dari Kecamatan Bandar Negri Semuong. Tiap sore hari, sangat biasa sekali banyak pemuda nongkrong di jembatan. Mereka memelototi pengguna jalan yang lewat. Hati-hati, jangan membalas tatapan mata mereka, bisa-bisa kau dikira menantang. Ujung-ujungnya piil pesenggiri lagi mungkin. Mereka tidak segan-segan memalak orang lewat, meminta uang atau barang. Kalau kau dipalak, lebih baik mengalah dan serahkan apa yang mereka minta karena mereka tidak segan-segan melakukan kekerasan, termasuk membunuh. Wah, seram, ini nasihat dari orang sana.

Tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Aku sempat sedikit mencuri dengar, sepertinya mereka lebih mengincar orang-orang yang mereka sebut "pendatang". Hmmm...menarik, bukan?

Jangan bosan, aku masih punya banyak cerita.

Tanggamus, Lampung: Piil Pesenggiri dan Kaca Spion

Hai, apa kabar?

Kali ini, aku ingin cerita tentang Lampung.


Aku sudah cerita, ya, kalau beberapa waktu lalu aku pergi ke Lampung. Aku harus menempuh banyak peristiwa hingga sampai ke tempat ini. Di tempat ini juga aku menemui banyak peristiwa yang tidak akan aku lupakan. Aku hanya 4 hari di sana. Singkat memang, tapi asal kau tahu pengalaman ini membuatku berkenalan dengan banyak hal.

Sampai sekarang aku masih merasa sungguh-sungguh kagum. Kagum dengan Tuhan yang menciptakan manusia hingga beragam. Kagum dengan Indonesia yang punya banyak manusia yang berbeda. Seperti Lampung, cuma sekitar 3 jam menyeberang dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni, aku sudah merasakan hal-hal yang sungguh berbeda dari Jawa.

Dari seseorang, aku sudah diberi tahu bahwa orang Lampung agak sulit diteliti. Mengapa? Mereka orang-orang yang keras. Jika kita mendapat hatinya, mereka akan baik. Jika kita menyinggungnya, tamatlah kita, bisa-bisa untuk selamanya. Kupikir ada benarnya. Watak orang Lampung asli yang khas adalah piil pesenggiri, yakni berkaitan dengan harga diri. Hargi diri mereka junjung. Siapapun yang melanggar piil pesenggiri mereka bisa-bisa seumur hidup tidak rukun lagi. Mereka punya semboyan lebih baik hancur daripada malu. Ini aku dengar dari tetua adat di pekon/desa yang aku tinggali.

Ada hal yang membuatku kaget ketika pertama kali tiba. Pikirku  ini berkaitan dengan sifat piil pesenggiri ini. Saat itu, aku dan kelima temanku naik angkutan umum dari Kota Agung menuju Kecamatan Bandar Negri Semuong. Awalnya, angkot kami berjalan mulus saja sampai tiba-tiba angkot diberhentikan dan terjadi pertengkaran yang hebat.

Tentu saja aku tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan karena mereka berbicara dengan bahasa Lampung. Namun, dengan bantuan bahasa tubuh aku mengerti apa yang mereka permasalahkan. Angkot itu sepertinya tidak sengaja melanggar sebuah motor ojek hingga spionnya lepas. Pemilik motor tidak terima dan terus mengejar angkot tersebut. Jadi, pelanggaran ini terjadi sebelum aku naik angkot itu.

Adu mulut yang terjadi sangat hebat. Orang-orang itu terlihat garang. Sopir angkot tidak berani keluar angkotnya. Mungkin kalau dia keluar bisa dipukuli. Sopir itu juga entah minta maaf atau tidak, tapi sepertinya tidak. Kedua pihak sama-sama bersikeras.

Aku dan teman-teman hanya berpandangan. Helloooo, berapa, sih, harga spion? Spion itu sebenanrnya juga tidak rusak atau pecah hanya lepas saja dan bisa dipasang kembali. Namun, pertengkaran karenanya sungguh lama, hebat, dan melibatkan banyak orang. Iya, banyak orang di situ, ada kawan-kawan sopir angkot dan ada kawan-kawan tukang ojek.

Tidak mengerti bagaimana penyelesaiannya. Yang kutahu, sopir angkot dibantu teman-temannya berhasil tancap gas meloloskan dari dari amukan tukang ojek. Saat kami angkot kami melaju, kulihat di belakang orang-orang itu masih tampak garang dan berbicara keras yang tidak kuketahui artinya.

Begitulah, Kawan, ini hanya pandangan dari seorang orang luar. Namun, bagiku ini menarik.



 

Sabtu, 01 September 2012

Seorang Anak Kecil

Baiklah. Udahan, ya, cerita tentang dia. Lain kali lagi. Percuma banyak cerita. Hanya mengulang saja.

Ada seorang anak kecil. Aku sangat sayang padanya. Dia putra seorang tetangga. Dia tampan. Jika kau memeluknya, bisa kau rasakan tubuhnya mungil, tulang dan dagingnya lemas. Kurasa umurnya sudah 2 tahun lebih, tapi ia belum juga bisa berbicara.

Aku sayang padanya. Entah. Tiap pulang ke rumah rasanya aku ingin bermain dengannya saja. Tiba-tiba, tadi malam aku merindukannya. Bagaimana kabarnya, ya?

Dia tumbuh dari janin yang mengagumkan. Suatu hari ibunya menderita stroke. Di saat yang bersamaan, ada janin yang siap berkembang di rahimnya. Tentu saja, ada 2 dokter yang berebutan untuk menyelamatkan, dokter syaraf dan dokter kandungan. Dokter syaraf menyelamatkan ibu. Dokter kandungan menyelamatkan janin. Oh, tapi, obat untuk ibu berbahaya untuk janin. Namun, jika ibu tidak diberi obat, janin selamat, tapi ibu terancam. Bagaimana?

Begitulah, si ibu akhirnya selamat dengan obat-obatan. Tidak ada yang menyangka janinnya juga selamat. Namun, bayi tampan yang lahir tanpa cacat itu mulai terlihat terhambat. Lama ia baru bisa berjalan dan sampai sekarang belum bisa berbicara. Tidak seperti teman-temannya, tapi dia sehat dan tidak cacat.

Aku suka dengannya. Saat kugendong, dia suka menunjuk-nunjuk apa saja di dekatnya sambil mengerang. Aku tahu. Dia pasti bertanya, "Itu apa?". Lalu, aku akan menyebut nama benda itu dan mempraktekkan bagaimana menggunakannya. Satu benda beralih ke benda lain. Satu kata beralih ke kata lain.

Aku merindukan anak kecil itu. Tatapan matanya itu membuatku merasa mungkin kami punya nasib yang sama.

Sekarang, dia sudah bisa berjalan dan semoga saja sebentar lagi ia berbicara lalu bercerita banyak denganku.

Dia mengingatkan aku pada cita-citaku. Linguistik klinik. Aku ingin berkecimpung di bidang itu, tapi belum tahu bagaimana.

Dia: Yang Pertama

Kau bisa menebak, kan, apa itu "yang pertama"? Aku takut menyebut kata itu. Bagiku sakral, tidak boleh banyak diucap. Banyak diucap hanya jadi pasaran dan tak bernyawa.

Dia yang pertama. Pertama yang bisa membuatku mampu mengenangnya dengan rasa bahagia. Yang mampu membuatku selalu mendoakannya. Aku mungkin gila. Tidak tahu. Yang pasti emosi ini meluap. Seharusnya, bisa kupendam dan kuhilangkan, tapi tak semudah itu.

Dia. Dia. Dia.

Kau tahu, dia pergi lagi ke negri seberang. Terserahlah. Aneh. Dia terlihat sungguh bahagia di sana. Mungkin, di sana tempatnya, bukan di sini. Tapi, tempatku di sini. Apa aku ingin bersamanya? Tidak. Tidak sama sekali. Aku hanya rindu. Rindu dia yang dulu. Aku ingin dengar ceritanya tentang negri seberang. Aku hanya ingin kami menjadi teman yang senantiasa berbagi cerita meski kami tidak sedang bersama-sama. Emosi apa ini? Tidak tahu.

Kami makin tidak bertegur sapa. Kami sempat berbincang. Sedikit sekali. Mungkin, dia sudah membaca. Dan, mungkin, dia tidak menginginkan hal yang sama. Biar saja dia punya pilihan.

Dia: Kami Berpisah (Lagi)

Kami sama-sama lulus sekolah menengah.

Sudah lama aku ingin berada jauh dari orang tua. Aku ingin merantau dan mandiri. Benar saja, aku diterima di sebuah universitas terfavorit di negriku. Sangat jauh dari orang tua. Banyak hal yang harus kuperjuangkan hingga aku bertahan di universitas ini, tapi tidak saatnya aku menceritakannya.

Ya, kami berpisah meski tanpa kata karena kami memang tidak pernah bertegur sapa. Namun, bagiku aku serasa terpisah dari dia. Tidak lagi bisa mencuri pandang atau sekadar mencuri dengar. Aku sedih, tapi aku juga senang. Aku berkata dalam hati, "Semuanya akan berakhir. Rasaku hanya sementara. Tidak lagi perlu berduka."

Aku senang dia kuliah di bidang yang dia sukai. Saat itu, ini terasa lebih menenangkan daripada keberhasilanku diterima di universitas yang kata orang "terbaik" di negri ini. Aku tidak pernah peduli. Aku hanya ingin jauh dari kotaku, terlebih dari dia.

Jangan tanya tentang cita-cita. Dulu, aku ingin jadi dokter. Aku selalu kagum dengan ilmu pengetahuan alam, tentang gunung, tentang laut, tentang langit, tentang angin, tentang batu, tentang binatang, tentang bunga, tentang manusia. Tentang Tuhan? Aku tidak terlalu mempermasalahkan. Aku percaya Tuhan, menyembahnya dengan cara Islam. Itu saja. Aku membaca Tuhan pada alam. Memang, aku tidak kuliah di kedokteran, tapi suatu hari kau akan bisa lihat aku tetap bisa berkecimpung di dunia ini karena aku tidak pernah lupa apa yang aku inginkan. Aku akan menemukan jalan.

Aku suka bahasa. Bahasa itu menyimpan misteri. Bahasa menyimpan segalanya. Dan, bahasalah yang seharusnya mampu mempertemukan aku dan dia. Dan, dia seharusnya tidak melupakan bahasa kami. Dan, seharusnya aku mengajarkan bahasaku padanya.

Aku kuliah di jurusan bahasa. Diejek memang, tapi biarlah.

Baiklah, aku, kan, ingin bercerita tentang dia. Dia dan aku berpisah sampai sekarang. Ternyata, semua perkiraanku melenceng. Yang kupendam makin kupendam. Salahku, justru makin keperam hingga semuanya menjadi sulit bagiku.

Dia: Aku Sungguh Malu

Hanya kau saja, kan, di sini? Aku tak perlu malu-malu padamu.


Dia. Kami tidak pernah bertegur sapa. Entahlah. Seharusnya, dia temanku. Temanku yang dulu. Dia kembali. Seharusnya, dia menemuiku dahulu. Bercerita pertama kali denganku. Bercanda pertama kali denganku.

Apa kau pernah merasa kehilangan teman? Seperti itulah rasaku dahulu. Aku ingin dengar ceritanya dari negri seberang agar aku juga bisa ke sana. Tapi, mana? Dia tak kunjung datang. Dia banyak sekali teman meski bukan aku.

Aku jadi malu tiap berpapasan dengannya. Aku hanya menunduk atau membuang muka. Biarlah, aku menyimpan rasa untuk sendiri saja. Aku hanya mencoba menepis dan berulang kali berkata, "Ah, aku hanya sedang puber. Ini hanya sebentar. Nanti juga lupa."

Ini memalukan.