Minggu, 21 Februari 2016

Menulis Lagi? (bagian 2)

Kamu belum bosan membaca ceritaku? Terima kasih.

Aku akan cerita tentang kuliahku. Ya, aku memutuskan kuliah lagi. Aku sudah merencanakan akan kuliah lagi setelah 2 tahun kerja. Beruntungnya aku, aku bisa mewujudkannya, walau ada yang meleset. Aku memperkirakan akan kuliah dengan duduk manis fokus kuliah saja dan dapat beasiswa. Sebaliknya, ternyata aku harus pontang-panting membiayai kuliah sendiri sambil bekerja, tapi ini tetap harus disyukuri. Tidak banyak yang dapat kesempatan seperti ini, bukan? Hehe.

Tidak sulit untukku menentukan meneruskan ke bidang apa. Sejak semester pertama kuliah S1, aku lurus tertarik ke ilmu bahasa, linguistik, bukan sastra. Meski jurusanku bernama jurusan sastra, aku sadar sesadar-sadarnya aku hanyalah penikmat sastra kelas ecek-ecek saja yang senang baca dikit-dikit lalu lupa siapa pengarangnya, duh maafkan. Meski demikian, aku sangat mendukung pengajaran sastra di sekolah yang sebaik-baiknya, bukan yang hafalan. Oleh karena itu, sekarang ini, aku sedang menggagas pelatihan pengajaran sastra yang baik untuk guru-guru (melalui program kantor). Aku juga senantiasa mendukung jika ada yang mempelajari sastra yang hubungannya dengan pengajaran untuk anak-anak, pengelolaan buku-buku yang sesuai untuk anak-anak, uhhh, ini menarik.

Sejak kuliah S1, aku sudah tertarik dengan psikolinguistik. Aku membaca satu buku pengantar yang ditulis oleh Prof. Soenjono Darmowidjojo (semoga ejaannya benar) lalu aku sangat tertarik. Sayangnya, aku tak menemukan buku lain tentang psikolinguistik. Ada satu lagi yang ditulis beliau juga tentang penelitiannya pada cucunya sendiri. Tetap saja belum memuaskan. Sayangnya, di S1, psikolinguistik tidak diajarkan. Untuk itu, aku harus mengejarnya di S2, bukan? Sama sekali bukan alasan (meneruskan kuliah) yang idealis dan visioner, wkwkwk.

Menulis Lagi? (bagian 1)

Rasanya, sudah bertahun-tahun aku berhenti menulis. Tulisan terakhir di blog ini (bukan terakhir juga, itu yang judulnya “Tidak Salah!”, tapi sesungguhnya salah besar, haha) kutulis sekitar 2 tahun lalu. Tentang apa? Apalagi kalau bukan kisah cinta kanak-kanak. Itu cerita cinta pertama, sebetulnya ada yang kedua, tapi malas nulisnya. Aku memang tidak pernah pacaran, tapi sebagai perempuan biasa yang lemah dan sering makan mecin, aku pun pernah tertipu (oleh indahnya dunia…), wkwkwk. Sudahlah. Aku rasa menulis kisah cinta sudah tidak terlalu menarik dan tak perlu lagi dibicarakan. Aku percaya laki-laki itu baik. Hanya saja mereka menyebalkan.

Hah. Jadi, sekarang aku mau menulis apa? Hei, aku belajar merajut. Agak drama di awal aku belajar. Temanku yang sudah pandai duluan langsung menanyaiku aku ingin membuat apa, buat tas, syal, bros, dll? Mungkin, cara belajarnya dan belajarku berbeda. Aku tidak bisa belajar seperti itu sesungguhnya. Di awal belajar, aku tidak bisa membayangkan akan membuat apa. Aku hanya bisa berpikir sampai batas merajut itu apa dan bagaimana. Sama seperti saat aku masuk Jurusan Sastra Indonesia, orang-orang repot menanyai dan mengkhawatirkanku akan jadi apa. Tentu saja, aku tidak berpikir jadi apa saat mendaftar, sungguh, aku hanya mengikuti naluri aku ingin belajar itu. Itu saja. Sama sekali bukan visioner, bukan? Wkwkwkwk.

Senin, 16 Desember 2013

Untuk Seseorang di Pusaranya...

Kini permintaan maafku hanya akan melayang-layang di udara. Ucapan terima kasihku sudah tidak bermakna. Terlambat. Seharusnya, kau hidup lebih lama agar aku bisa melihatmu bahagia. Menjadi penulis inspiratif dan juga menemukan cinta.

Minggu, 29 September 2013

MUSIM DINGIN

Perempuan itu kini mendapatkan apa yang telah lama hadir dalam mimpinya. Ia berjalan sambil bersenandung. Dihirupnya wangi dingin di sekitarnya. Dipandanginya bangunan-bangunan kokoh yang selalu ia lihat dalam mimpi. Sebetulnya itu bukan mimpi menyenangkan.

Senin, 23 September 2013

Sapa Setelah Sekian Lama Hampa

Halo halo...saya ini penulis yang malas sekali, ya. Sudah berapa abad laman ini tak kutengok. Sempat juga laman ini tak bisa kubuka. Kelabakan. Mau bikin lagi...huhu...sayang sekali. Alhamdulillah...udah bisa dipulihkan alias bisa ditengok lagi. Hehehe....

Wow, banyak tulisan alay, ya. Ada beberapa tulisan yang belum selesai. Catatan skripsi, juga cerita cinta di masa lalu.

Ah, sudahlah. Tak perlu diteruskan, ya, tulisan-tulisan itu. Malas. Hahaha...

Minggu, 16 Juni 2013

Tidak Salah !



Kau sudah menolakku. Dulu. Saat itu, sambil tertawa kubilang aku suka padamu. Aku membuatnya seolah-olah candaan. Lalu, kau menyuruhku untuk menyukaimu selamanya. Kita tertawa. Ah. Tidakkah kau merasa aku sangat serius saat itu? Tidakkah kau sadar selorohmu itu adalah perintah bagiku? Sesaat kemudian, kau bilang, "kita teman". Kau menolakku. Iya. Aku merasa kau menolakku.


Jumat, 14 Juni 2013

Tentang Skripsi #1


Hei!
Skripsi saya sudah selesai. Sudah berminggu-minggu yang lalu. Bukan sombong. Saya menyelesaikannya cepat-cepat karena ingin segera DIBACA sama dosen! Biar cepat dapat revisi!
Huh! Harapan itu pupus. Sampai hari Rabu pagi kemarin saya masih berpikir bahwa dosen pembimbing saya akan banyak memberi coretan revisian dan memberi banyak-banyak masukan. Skripsi saya akan KEREN!

Awrrr...tidak.

Papah (pak dosen) hanya bilang skripsi saya sudah bagus! Koreksiannya yeyeyelalalauuu, gitu deh, tentang salah tik, fotokopian data burem, lalalili gitu. Saya dibilang bikin malu gara-gara salah tulis tanda yang seharusnya titik dua (:), tapi saya tulis titik (.). Yaelah bapaaaakkkkk...pengen teriak saya. Konten, Pak, konten saya bagaimana? "Bagus. Cukup buat saya."

Saya senang? Hah. Saya malah menangis gegulingan. Lucu, ya. Iya, betul, saya menangis. Lubang menganga di skripsi saya terlihat begitu nyata di mata saya. Saya tak tahu bagaimana menutupnya. Dan, papah bilang bagus. Bagus? Bagus? Owh.

Iri dengki saya menjadi-jadi kala teman pulang dengan skripsi penuh coretan, penuh masukan, lama sekali bimbingan yang saya dengar diselingi pujian. Oh. Saya? Saya? Bagus. Sudah bagus.

Huft. Saya belum puas. Iya, saya belum puas. Mungkin ini sudah risiko saya mengambil teori yang memang belum diajarkan. Saya belum menguasai betul. Dosen juga sudah tahu, lalu membiarkan saya riang gembira bermain-main dengan mainan baru itu. Huft.

Saya akan harus lanjut S2. Harus. Kenapa? Saya ingin mengulang dari awal. Belajar semuanya dari awal. Ya, saya berjanji untuk sabar--sabar dalam memperdalam ilmu.

Kamis, 13 Juni 2013

Hukum Kekekalan Energi #1

Kemarin, ada teman yang bertanya tentang terjemahan yang bagus dari buku yang dibacanya.
"Matter is indestructibel"--kira-kira artinya 'materi tidak dapat dimusnahkan'.

Kalimat itu mungkin merujuk pada hukum kekekalan energi.
"Energi itu kekal. Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Energi hanya dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk lain."

Hafal benar, ya, aku. Dulu, fisika teori itu kegemaranku, tapi aku tak suka matematikanya. Hahaha...

Aku suka mengaitkan segala konsep yang pernah aku pelajari. Dan, hukum kekekalan energi adalah salah satu hukum fisika yang bisa kukatakan menjadi prinsip hidup yang kupegang.

Energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Aku tak bisa tiba-tiba memiliki energi untuk mencintai sesuatu--sebagaimana aku juga tak bisa tiba-tiba memusnahkan rasa cinta pada sesuatu. Aku tak bisa tiba-tiba memiliki energi untuk membenci sesuatu--sebagaimana aku juga tak bisa tiba-tiba memusnahkan energi untuk membenci sesuatu.

Tapi, aku bisa mengubahnya.

IRI: Pelajaran dari Film Korea

Kemarin, aku menonton film Korea, film horor. Ah, tidak terlalu seram, malahan sedikit melodrama. Kisah sepasang sahabat...ah...ini membuatku mengenang sahabat-sahabatku. Ceritanya tentang persahabatan yang retak bahkan hancur gara-gara iri dengki.

Tragis. Sepasang sahabat itu sama-sama suka balet. Yang satu lebih berbakat. Yang satunya, iya, dia iri, sangat iri. Karena irinya, diam-diam ia mendoakan yang buruk untuk sahabatnya, diam-diam ia menaruh pecahan kaca dalam sepatu balet sahabatnya. Sahabatnya itu tahu tentang pecahan kaca itu, tapi ia diam saja. Membiarkan kakinya tertusuk kaca saat menari. Membiarkan tusukan kaca itu dari sahabatnya. Apa yang ia pikirkan, mungkin ia ingin merasakan rasa sakit sahabatnya dari pecahan kaca itu.

Padahal, ia selalu ingin menjadi sepasang balerina dengan sahabatnya. Bakat dan usahanya yang menjadikannya di puncak serasa tak lengkap tanpa sahabatnya itu.

Tapi, apa boleh buat. Mungkinkah ia akan berperilaku sama jika ia ada di posisi sahabatnya?
Huh. Betapa iri itu seburuk-buruknya sifat.

Suatu hari, aku bertengkar dengan sahabatku. Awalnya, kupikir tak ada masalah. Kita makan bersama seperti biasa. Bercerita macam-macam seperti biasa. Lalu tiba-tiba, ia menghabiskan minumannya dengan kasar, meletakkan gelas dengan kasar hingga suara benturannya tak akan pernah aku lupakan. Terlebih kata-katanya kemudian. "Aku iri sama kamu!", lantang sekali kata-katanya. Oh Tuhan, apa yang membuatmu seperti ini? Kau terluka. Aku juga terluka.

Tapi, iri itu wajar. Aku pernah. Tapi, untuk apa? Lama-lama aku lelah. Lebih baik berfokus pada keunggulan diri sendiri dan berguru pada orang yang aku pandang punya kelebihan. Iri pada orang yang punya kelebihan lalu mendoakan yang buruk itu rugi saja. Lebih baik belajar darinya bagaimana ia mendapatkan itu semua, bekerja sama, dan bantu ia juga--lalu ia akan membantumu atau Tuhan yang akan membantumu.



Temanku...

Temanku, betapa aku sama sekali tak ingin meninggalkanmu. Sedikitpun aku tak ingin melupakanmu. Sungguh aku merasa berdosa jika sejenak melupakanmu, sejenak membencimu, sejenak tak ingin kau datangi...

Temanku, kau terkadang membuatku terharu,
sakit yang kau derita itu...
Aku berjanji, aku selalu siap mendengar ceritamu.

Temanku,
jika kau mau, mari kita bersulang utk air mata dalam gelasmu dan gelasku.

Kamis, 27 September 2012

Puisi Cinta

Petang tadi ada acara baca puisi di kampus. Kukira puisi-puisi yang rada "kece" gitu. Eh, ternyata puisi-puisi galau tentang percintaan ala mahasiswa. Hehehe...tapi, bagus juga, kok, aku jadi terbawa galau. Nulis puisi juga, deh. Jangan ketawa, ya.

Cinta.

Aku manusia
bisa jatuh cinta
aku tidak bisa mengiranya
karena telah kupendam dalam hitungan warsa

Sudah takterkira takterhingga
kuibaratkan saja seperti serigala
cintaku terlalu besar karena terlampau lama
jadi sebuas dan seganas serigala

Serigala itu terikat tali
ujungnya di tanganmu, ujung lain di tanganku
diam saja, jangan bergerak

Kita tidak akan berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
Jika kita terlampau berjauhan
tali akan menjerat serigala mengantarnya ke alam baka
serigala mati, cintaku mati

Kita tidak akan berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
Jika kita berdekatan, tali akan kendur
serigala akan memangsa aku, kau, dan mereka

Kita tidak berdekatan
tapi tidak boleh berjauhan
atau akan ada yang terluka

Sabtu, 08 September 2012

Sastra Lisan, Tradisi Lisan, dan Folklore

Semester ini, aku ikut kuliah Sastra Lisan? Apa itu? Istilah itu sebenarnya juga tidak terlalu tepat karena mengandung pengertian yang kontradiktif, tetapi istilah ini sudah terlanjur digunakan secara luas. "Sastra" dan "lisan", "lisan" yang "disastrakan", "sastra" yang "dilisankan" atau "sastra" yang disebarkan secara "lisan"? Sebenarnya, aku juga belum mengerti benar. Baru juga kuliah 2 jam, hehehe...

Bagaimana dengan tradisi lisan?
Sepakat, ya, kalau tidak semua bahasa memiliki sistem aksara? Bahkan, sampai sekarang, lho, masih ada bahasa yang tidak memiliki aksara atau aksaranya mengadaptasi bahasa lain, contohnya bahasa Indonesia, hehe...sebenarnya, dulu bahasa Indonesia hampir memiliki aksara sendiri, tapi...ah...nanti saja ceritanya...
Nah, untuk hakikatnya bahasa itu sistem bunyi, jadi bahasa memang tidak harus beraksara. Sekolompok masyarakat pasti memiliki budaya. Budaya meliputi banyak hal. Segala ilmu dan kesenian dari suatu masyarakat yang belum mengenal tulisan tentu akan diwariskan secara lisan. Inilah tradisi lisan. Namun, tradisi lisan belum tentu berhenti ketika sistem aksara sudah ada, contohnya masih banyak pelaku-pelaku seni yang belajar secara otodidak bukan dari buku (sistem aksara sudah ada, lho).

Di dalam tradisi lisan, ada sastra lisan. Sudah kubilang, aku belum mengerti benar. Sastra lisan adalah bagian dari tradisi lisan. Ini karena tradisi lisan berwujud banyak hal, misalnya ilmu pengobatan, ilmu membaca alam, dan ilmu lain menurut kearifan lokal masing-masing budaya. Menurut pemahamanku, sastra adalah salah satu produk budaya yang berupa cerita. Cerita bisa diwujudkan dalam banyak bentuk, seperti lagu, pantun, syair, puisi, dan prosa. Jadi, sastra lisan adalah bentuk-bentuk sastra yang disebarkan atau dilakukan secara lisan. Semoga kesimpulanku ini benar, haha...

Nah, ada lagi istilah foklore. Baunya bahasa Inggris, nih. Folklor dari kata "folk" dan "lore". "Folk" berarti manusia kolektif dan "lore"  berarti tradisi. Jadi, folklor adalah...jeng jeng jeng...pusing, haha... Manusia yang kolektif secara bersama-sama menghasilkan kebudayaan. Berbagai produk budaya itu diwariskan turun-temurun. Produk budaya ada yang berupa lisan, tulisan, dan berupa benda. Oleh karena itu, folklor tidak sama dengan tradisi lisan.

Nah, jelas bahwa folklor bukan bagian dari tradisi lisan, tapi apakah tradisi lisan bagian dari folklor? Bukan juga, tradisi lisan dan folklor berbeda meski mungkin ada bagian yang tumpang tindih. Namun, yang aku pahami adalah folklor menekankan pada manusia yang kolektif, yakni kita harus melihat suatu produk budaya yang diwariskan turun-temurun sebagai hasil dari olah pemikiran manusia. Sedangkan, tradisi lisan lebih menekankan pada budaya yang diwariskan dan dikomunikasikan secara lisan.

Kau bingung? Aku juga, haha...tulisan ini tidak ilmiah, kau boleh percaya atau tidak. Yang jelas aku menulis jujur sesuai yang kupahami. Aku belum membaca buku, hanya artikel koran yang disalin di blog, ini http://cabiklunik.blogspot.com/2010/11/merevitalisasi-atau-membunuh-tradisi.html.

Tidak perlu kutipan atau daftar pustaka, ya? Kita bergosip saja. Lagipula kadang aku ingin kembali ke masa lalu saat ilmu itu milik bersama, tidak dikomersilkan, dan tidak perlu klaim hak cipta atau hak kekayaan intelektual atau klaim-klaim yang lain.

Jumat, 07 September 2012

Proyek di Pasar Ikan

Hai, kau. Tengah malam aku terbangun. Sudah biasa aku seperti ini, tidur setelah magrib atau isya' lalu terbangun tengah malam. Biasanya susah tidur lagi. Apalagi kalau sedang mengkhawatirkan sesuatu. Aku bercerita padamu saja.

Sekarang ini aku sedang mengerjakan projek di Pasar Ikan di Jakarta Utara. Ini untuk kompetisi bisnis sosial yang diadakan oleh sebuah perusahaan. Tim kami terdiri dari 5 orang. Kami akan membuat sebuah kampung wisata di daerah ini.

Sebenarnya, kami punya blog yang menceritakan kegiatan-kegiatan kami, di sini http://meltingpotproject.tumblr.com/. Berkunjunglah jika sempat. Hehehe...

Di Jakarta, ada agen-agen yang menyalurkan wisatawan asing untuk berjalan-jalan di daerah-daerah kumuh dan miskin di Jakarta. Apa kau tahu hal ini? Apa kau juga merasa ini menyedihkan? Ya, kalau boleh agak kasar aku berkata, orang asing itu dibawa berkeliling untuk semacam "wisata kemiskinan".

Agen-agen seperti itu sudah lama ada dan belum ada perubahan di lokasi-lokasi miskin itu. Aku dan teman-teman juga dibantu dosen pembimbing membuat proyek di sana dengan tujuan dapat membantu mereka untuk mendapat penghasilan tambahan.

Kami akan bekerja sama dengan agen tour itu. Mereka akan memberikan kursus, terutama bahasa Inggris, untuk beberapa warga agar mereka bisa menjadi tour guide. Agen itu juga akan membantu menyalurkan wisatawan ke tempat ini. Eh, lokasi itu berada di antara 12 destinasi wisata pesisir, lho, memang banyak wisatawan asing yang berseliweran di sini.

Selain itu, kami akan membantu warga memperbaiki rumah mereka untuk tempat menginap bagi turis. Kami juga membantu mereka membersihkan pemukiman itu yang penuh sampah dan memperbaiki kebiasaan mereka yang suka buang sampah di laut. O ya, aku belum cerita, masyarakat di sini membangun rumah di atas laut, dekat pelabuhan Sunda Kelapa, dan mereka juga selalu membuang sampah di laut. Mengapa? Tentu karena kemiskinan. Orang-orang itu hanya berpikir hari ini bisa makan tanpa peduli lingkungan.

Begitulah cerita singkatnya. Kapan-kapan aku cerita lagi. Doakan, ya, agar proyek ini berhasil !!! ^_^

Rabu, 05 September 2012

Senja di Beranda


Rumah ini punya dua teras. Tidak sejajar letaknya karena yang satu menjorok ke belakang dan lebih sebagai ruang keluarga. Rumah ini terletak di tengah-tengah rumah para tetangga. Sebenarnya tidak ada jalan keluar kecuali tanah sempit yang katanya ada atas belas kasih seorang warga. Tanah sempit macam celah itu kini diberi pagar besi dan digembok. Padahal rumah berpagar saja aku tidak suka. Apalagi ini, membuat kami seperti tahanan.

Kejutan yang Menyenangkan. Terima Kasih.

Hai, kau, apa kau tahu kalau akhir Agustus lalu aku ulang tahun?

Tidak pernah ada yang merayakan ulang tahunku, bahkan keluargaku sendiri. Memang aku sendiri yang tidak mau, sih. Aku tidak suka menspesialkan hari-hari tertentu. Hari ulang tahun, bagiku adalah pengingat bahwa kesempatanku hidup di dunia berkurang. Aku akan merenungi apa-apa yang sudah aku lakukan, apa yang bermanfaat dan apa yang tidak. Kalau ada yang mendoakan, aku sangat berterima kasih.

Begitulah aku. Kau harus mengerti. Aku juga tidak terlalu peduli dengan ulang tahun orang lain, jarang aku bisa mengingat. Maaf. Tapi, sekarang aku sedikit berubah, lho. Aku jadi suka ikut membuat kejutan untuk teman yang ultah. Sepertinya, memberikan perhatian semacam itu membuat orang bahagia.

Di ultahku tahun ini banyak yang memberikan ucapan selamat dan doa. Aku sangat berterima kasih. Ada juga yang memberikan perhatian lebih yang membuatku terharu. Temanku sebangku waktu SMP mengajakku makan di restorannya...hmmm...gratis, lho, ehehehe... Adikku yang paling kecil membeli bros-bros lucu untukku. Satu lagi, teman sekamarku di kos, dia menaruh kado di atas mejaku saat aku tertidur. Saat bangun, kukira kado itu milik temannya yang tertinggal. Wah, ternyata buat aku. Banyak hal yang membuatku senang, termasuk ucapan-ucapan ulang tahun yang lucu-lucu dari teman-temanku. Walau beberapa di antaranya agak menyebalkan. Hahaha... Tidak apa-apa, aku suka.

Bagaimana denganmu? Aku harap suatu hari kita bisa merayakan ulang tahun bersama.

Jendela Dia

Sampai Dia dewasa, sampai Dia tiada; aku masih diam di sini. Statis tidak bergerak dengan ingatan masa lalu yang jelas. Inilah takdir. Masa lalu memang sudah berlalu. Masa lalu selalu lebih indah jika telah berlalu. Kenangan. Kadang aku bertanya apa orang yang kita kenang mengenang kita pula. Hatiku akan hancur bila mengakui bahwa kenangan sifatnya subjektif. Tidak selalu yang kita kenang adalah kenangan berharga pula bagi orang lain. Tapi memang begitu adanya. Apalagi bila menyangkut orang yang kita sayangi.
Apalah arti yang tengah aku rasakan? Suatu yang abstrak tapi nyata. Suatu yang kuketahui bahwa ini terkadang berasal dari sensasi yang sengaja dirasa. Cinta? 

Selasa, 04 September 2012

Pesan yang Kekal

Ada pesan yang kekal dalam kata, sebagaimana ada juga pesan yang kekal dalam untaian DNA.

DNA itu terdiri dari untaian protein. Ada namanya, ya? Berantai-rantai di satu sisi lalu protein-protein itu disalin di sisi lain. Begitu seterusnya hingga terpilin banyak. Tidak akan ada kesalahan. Terjadi secara otomatis.

Kecuali terjadi sesuatu, misalnya tubuhmu di sorot sinar beradiasi tinggi hingga mengacaukan pesan-pesan yang dirangkai DNA. Namanya mutasi gen. Mutasi gen tidak berlangsung serentak untuk seluruh umat manusia, kan. Ya. Hanya seorang saja yang DNA-nya bermutasi. Orang ini berketurunan lalu pesan-pesan DNA diwariskan sama persis ke anaknya. Anaknya ke anak anaknya ke anak anaknya anaknya. Begitu terus. Manusia jadi bermacam-macam.

Tetap saja ada pesan yang kekal dalam DNA. Pola mutasinya pun bisa dilacak.

Sama seperti kata. Kau berbahasa. Bahasa yang kaumaksud bahasa, ya, harus dimengerti manusia. Bahasamu dipakai oleh komunitasmu. Kau juga. Tiba-tiba, seseorang begitu ia bangun tidur lidahnya kaku. Parahnya ia ditiru. Ditiru. Dan terus ditiru. Ditambah. Ditambah. Dikurangi. Dikurangi. Ada yang hilang. Ada yang berubah. Bahasa manusia jadi ada macam-macam. Tetap. Ada yang kekal. Pesan-pesan kekal itu bisa dilacak.

Senin, 03 September 2012

Tanggamus, Lampung: Cerita-Cerita tentang Bukit Pertambangan


Kami bertemu dengan orang yang termasuk lama tinggal di pemukiman itu.  Berdasarkan ceritanya, pertambangan emas itu dulunya adalah hutan. Dulu, yang membuka lahan di tempat itu adalah perantau tangguh dari Padang dan Bugis. Orang Jawa sebenarnya mengikuti  jejak mereka. Meski begitu, yang tinggal di sana sekarang banyak dari kalangan orang Jawa. Daerah itu juga termasuk daerah transmigrasi.

Orang-orang pendatang menanam berbagai tanaman, seperti kopi dan kakao. Ada juga cengkeh yang ditanam orang Bugis yang sekarang sudah mulai ditinggalkan. Hutan yang ditanami itu juga termasuk kawasan hutan lindung.

Dulu, sebelum menjadi lokasi tambang, daerah itu menjadi lokasi perusahaan kayu. Karena tidak maju, perusahaan itu gulung tikar. Suatu hari ditemukanlah potensi mineral emas di daerah tersebut. Mulailah observasi dan masuklah para ekspatriat mendirikan perusahaan tambang di sana.

Yup, ada lagi yang ingin kuceritakan. Apa dampak dari adanya perusahaan itu? Limbah? Aku tidak pandai membicarakannya. Setahuku dari sedikit mencuri dengar, perusahaan ini menyedot banyak pekerja. Mengurangi banyak pengangguran, ya? Banyak yang berminat bekerja di sana meskipun pekerjaan ini berbahaya karena mereka harus menambang di goa-goa. Kalau sedang ada gempa dan longsor berbahaya, kan?

Berikut ini adalah pemikiran temanku. Banyak pekerja tambang yang dulunya petani. Bagaimana ini? Mineral emas tidak selamanya ada. Ketika sumber daya itu habis, para pekerja itu harus mencari pekerjaan lain.  Apa mereka bisa kembali menjadi petani? Apakah lahan pertanian yang sudah disulap menjadi pertambangan bisa dikembalikan menjadi area pertanian dan perkebunan yang subur kembali?

Bagaimana kalau menurutmu? Seperti apa pengelolaan potensi tambang yang bijak?

Tanggamus, Lampung: Perjalanan di Bukit Sekitar Tambang

Aku dan kedua temanku menumpang di mobil yang khusus membawa pekerja tambang. Kami turun di Talang Topa, Lampung Barat. Ya, bukan wilayah Tanggamus lagi sebenarnya. Lokasi ini berada sekitar 2 kilometer dari pertambangan.

Perjalanan menuju lokasi ini sangat terjal dan sepi. Agak menakutkan memang. Bayangkan, akses masyarakat di sini menuju lokasi ramai sangat jauh. Pemukiman di sini beberapa di antaranya sudah bagus. Menandakan pemiliknya orang berada. Banyak juga rumah-rumah dari kayu atau bambu bergaya Lampung dan Jawa. Ada kantor polisi dan tempat peribadatan juga. Area sekitar tambang dibagi dalam blok-blok. Entah, ada berapa blok aku tidak tahu. Saat itu, kami turun di blok 4.




 Ya, kami turun sekitar 2 kilometer dari pertambangan. Kami bermaksud berbincang dengan warga di sana, tetapi semua rumah seakan tertutup untuk kami. Karenanya, kami memutuskan berjalan mencari pemukiman lain. Kami berjalan menuruni bukit sekitar 3,5 kilometer hingga menemukan pemukiman lain, yakni blok 10.
Sepanjang perjalanan, banyak hal membuatku kagum. Udaranya sejuk tentu saja. Banyak area perkebunan. Yang banyak adalah kopi dan kakao. Berbeda dengan pekon yang saya tinggali. Pekon yang saya tinggali dihuni oleh orang Lampung asli dan tidak ada pendatang. Ternyata, pemukiman di sini dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku. Ada warga yang mengaku orang Japung, yakni campuran Jawa dan Lampung. Terdengar juga sayup-sayup bahasa Jawa, Sunda, dan Lampung di sini. Di sini, desa tidak disebut pekon, tetapi kalau tidak salah perwatin. Ah, maaf, aku juga lupa.

Tanggamus, Lampung: Perjalanan ke Pemukiman Dekat Pertambangan

Masih tentang pengalamanku di Tanggamus, ya. Cuma 4 hari, tapi aku mencoba memahami di sini.

Di Tanggamus tepatnya masuk wilayah Pekon Gunung Doh, ada perusahaan tambang emas, lhoh. Menurut seorang warga, sebenarnya status wilayah pertambangan ini sempat diperebutkan, yakni masuk Lampung Barat atau Tanggamus. Ya, karena daerah pertambangan ini memang berada di perbatasan. Pertambangan ini akhirnya diakui milik Tanggamus.

Pekon yang aku tinggali berada jauh dari lokasi pertambangan. Untuk mencapainya, butuh sekitar 3 jam dengan kendaraan roda 4 jenis elp. Untuk mencapai lokasi tambang tidaklah mudah.

Hanya pekerja yang memiliki izin masuk lokasi pertambangan. Bisa juga orang-orang tertentu yang berkepentingan diizinkan masuk ke lokasi dan tentu saja dipertanyakan dulu apa kepentingannya. Proses perizinannya sangat ketat. Aku? Aku tidak punya izin untuk memasuki wilayah tambang. Baiklah, tapi aku punya keberuntungan untuk berada sedikit dekat dengan lokasi.

Tidak ada sarana transportasi umum ke sana. Kalau mau kita bisa sewa ojek, tapi bayar 100 ribu rupiah. Gila, ya? Kalau aku, aku tidak akan mau mengeluarkan uang sebesar itu. Hehehe...

Tiap pagi dan sore ada mobil elp yang membawa pekerja tambang pulang pergi ke lokasi. Aku dan kedua temanku meminta diantar oleh mobil ini. Ya, kami menyetop bus dan meminta ikut. Sebenarnya, ini tidak boleh dilakukan karena mobil itu memang khusus untuk pekerja. Akan tetapi, banyak juga warga yang bermukim di sekitar lokasi tambang menggunakan transportasi ini untuk perjalanan turun bukit atau kembali ke rumahnya yang aksesnya sulit dijangkau itu.

Kami diizinkan ikut. Ah. Senang sekali. Tapi, tanpa kita ketahui, seseorang di bus itu melapor pada atasannya di perusahaan tambang bahwa ada mahasiswa yang masuk lokasi tambang tanpa izin. Wah, wah, wah, tentu saja kami dapat sedikit masalah mengenai ini. Namun, ada kesalahpahaman juga di sini. Kami tidak pernah masuk lokasi tambang. Kami hanya berkeliling di pemukiman dekat lokasi tambang.

Ada cerita apa saja di sana? Sebentar, akan kuceritakan, simpan untukmu saja ya...